AkhbarulYaum.com. - Hari ini adalah hari penerimaan hasil ujian anak sekolah. Ada satu kejadian menarik yang terjadi. Seorang anak SD yang sudah seringkali rangking pertama, tiba-tiba pada hasil ujian kali ini, ia berada di peringkat ketiga. Maka menjadi hal yang wajar ketika anak tersebut menjadi sedih.
Jika anak Anda mengalami hal yang demikian, maka kira-kira apa reaksi Anda sebagai orang tua?
Apakah Anda akan memarahi anak Anda karena tidak lagi rangking pertama?
Ataukah,
Anda akan mengakui level usahanya saat ini dan hasil yang dicapainya saat ini (tanpa perlu berusaha menghibur anak dengan melemparkan kesalahan kepada sesuatu atau orang lain), kemudian arahkan fokus usahanya?
Kebanyakan orang tua tanpa sadar telah meletakkan identitas diri anaknya dengan rangking terbaik. Dan jika rangkingnya "hilang", maka identitas "anak terbaik" pada dirinya pun "hilang".
Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya anak hanya belajar demi untuk mempertahankan pencitraan atas dirinya yang telah terbentuk selama ini. Dan hal ini sesungguhnya membuat anak terperangkap dalam mindset tetap yang tidak suka menghadapi tantangan dan cenderung menghindari kegagalan.
Padahal, rangking adalah semata-mata "suatu penyebutan" atas USAHA anak selama ini. Ia berhasil mencapainya bukan karena identitas "cerdas" yang telah melekat kepadanya selama ini, melainkan karena USAHA DAN BELAJAR-nya selama ini.
Fokus pada USAHA anak akan mengarahkan anak pada mindset pertumbuhan. Suatu mindset yang akan membuat anak percaya bahwa ia mesti memperkuat usahanya jika ia ingin mencapai level prestasi yang lebih tinggi lagi.
Menanamkan mindset pertumbuhan kepada anak, akan menjadi dasar baginya untuk TEKUN dalam mencapai tujuannya. Dan hal inilah yang justru akan membuatnya sukses kelak.
Karena jika hanya fokus pada rangking semata (identitas diri), maka seperti kata Thomas Stanley, hal itu ternyata bukan penentu utama kesuksesan.
0 comments:
Post a Comment