AkhbarulYaum.com. Razia FPI
FPI merazia tempat-tempat kos yang mereka duga "sarang" gay. Entah bagaimana cara mereka mendeteksi gay atau bukan. Yang jelas, nasib seperti ini hanya dialami penghuni kos di gang-gang sempit. Di tempat kos elit seperti Kebayoran atau Setiabudi, atau di apartemen mewah, FPI tidak bisa masuk.
![]() |
| Ilustrasi Rombongan Motor FPI |
Demikian pula, operasi penggrebegan oleh Satpol PP hanya berlaku untuk hotel-hotel kelas melati. Kalau di hotel bintang 4-5, aman. Bahkan tempat pelacuran "resmi" seperti Hotel Alexis itu aman.
Di Banda Aceh, para pemuka agama sering merazia perempuan bercelana ketat. Perempuan wajib pakai jilbab. Tapi ketika 2 tahun yang lalu berkunjung ke sana, dan menginap di Hotel H, saya dibisiki teman,"Coba ke basement di atas jam 10 malam." Jam 12 saya ke situ, rupanya ada diskotik. Perempuan-perempuan berpakaian minim sedang jingrak-jingkrak berdisko. Apakah ulama-ulama yang suka merazia itu akan ke sini untuk razia? Tidak.
Apakah orang-orang itu benar-benar ingin menegakkan syariat Islam? Atau, mereka sebenarnya sedang berfantasi soal penegakan syariat Islam? Dugaan saya, mereka hanya sedang mencoba memuaskan ego spiritual belaka.
Orang-orang itu merasa berdosa kalau ada maksiat di depan mereka, di dekat rumah mereka. Maka mereka akan rewel bila itu terjadi. Di tempat-tempat yang tak terjangkau penglihatan, mereka tak peduli. Jadi, ini hanya kebutuhan untuk merasa nyaman. Demi kenyamanan diri, urusan selangkangan orang pun direcoki.
Selebihnya, ini perkara korupsi. Tempat-tempat hiburan sudah menyiapkan sejumlah amplop, untuk aparat pemerintah, preman, dan pihak-pihak lain yang berpotensi mengganggu bisnis mereka. Apa iya polisi syariah Aceh tidak tahu di hotel yang saya sebut tadi ada diskotek? Tahu. Tapi mereka juga tahu bahwa menerima duit lebih sedap daripada merazia.
- Hasanudin Abdurakhman -

0 comments:
Post a Comment